Payung 傘

Payung 傘 かさ

Hallo teman-teman. Sudah sedia payung sebelum hujan? Memang daerah Tokyo diumumkan sudah masuk musim hujan, ya.

Hari ini saya ingin berbicara mengenai KASA atau payung. Ada hubungannya sedikit dengan musim hujan, tapi alasannya sebetulnya adalah karena hari ini tanggal 11 Juni adalah peringatan “Hari Payung” di Jepang. Aneh-aneh saja, ya?

Tanggal 11 Juni dijadikan sebagai hari Payung di Jepang sejak tahun 1989 dengan alasan pada tanggal itu biasanya Jepang sudah masuk musim hujan 梅雨入り つゆいり. Yang menetapkan adalah sebuah asosiasi yang bernama JUPA (Japan Umbrella Promotion Association), guna lebih memasyarakatkan payung.

Oh ya, yang dimaksud dengan kasa adalah payung yang kanjinya 傘 bukan 笠 yang memang dibacanya juga sama sebagai kasa. Tapi berupa topi yang langsung dipakai di atas kepala. Kalau tahu cerita kasajizo 笠地蔵 かさじぞうitu adalah kasa yang topi, yang dipakaikan di kepala ojizo sama お地蔵様 patung yang terbuat dari batu.

Lalu yang ingin dipromosikan oleh JUPA itu adalah payung Eropa yogasa 洋傘 ようがさ, bukan wagasa 和傘 わがさ. Padahal payung wagasa ini sudah lama ada di Jepang, dibandingkan yogasa. Kalau melihat lukisan mengenai Genji Monogatari yang ditulis pada akhir zaman Heian (1068~1192) sudah ada wagasa. Jadi sudah bisa dipastikan memang payung wagasa itu sudah lama dipakai di Jepang. Sedangkan payung Eropa itu baru masuk waktu Komodor Matthew Calbraith Perry datang ke Jepang tahun 1853.

Perbedaan mendasar dari wagasa dan yogasa itu memang terletak pada perbedaan bahan yang dipakai. Wagasa terbuat dari kertas Jepang yang berlapis kertas minyak, sedangkan yogasa terbuat dari bahan kain. Padahal soal ketahanan pada airnya tidak jauh berbeda, tetapi wagasa memang tidak sekuat yogasa, alias cepat robek.

Seiring dengan perkembangan yogasa, atau payung yang sedang kita bahas ini, ada beberapa istilah yang sering dipakai

1. Jump Kasa ジャンプ傘、menunjuk pada payung yang langsung “melompat” terbuka begitu kita tekan tuas di pegangannya.

2. Payung lipat, oritatami kasa 折り畳み傘 おりたたみかさ、yaitu payung yang bisa dilipat dua, atau tiga sehingga menjadi kecil dan bisa dimasukkan ke dalam tas. Ternyata payung lipat itu adalah hasil temuan orang Jerman yang bernama Hans Haupt, pada tahun 1928. Sedangkan payung lipat tiga konon mulai beredar tahun 1960.

3. Vinyl kasa, payung plastikビニール傘 menunjuk pada payung yang terbuat dari plastik transparan. Saya ingat sekali dulu pertama kali datang ke Jepang tahun 1989, ada teman yang membeli payung plastik ini bermacam warna untuk oleh-oleh. Vinyl kasa ini dijual pertama kali tahun 1958 dan terkenal pada olimpiade Tokyo tahun 1964, karena ada orang Amerika yang ingin menjualnya di Amerika, dan tentu saja langsung populer di New York.

Nah, ada satu lagi yang ingin saya tulis yaitu penggunaan kata kasa, yaitu aiaigasa 相合傘あいあいがさ. Aiaigasa adalah pemakaian satu payung untuk berdua, berbeda jenis kelamin. Ini merupakan momen yang romantis deh. Ini juga dipakai untuk pedekate terhadap lawan jenis yang disukai secara tersamar. Memang banyak karya sastra setelah zaman Edo yang menceritakan tentang aiaigasa ini. Saya rasa teman-teman sudah pernah melihat juga dalam film-film remaja. Bahkan dalam coret-coretan di dinding atau papan tulis ada tanda payung, hati dan nama laki-laki dan perempuan di bawah gambar payungnya, kan. Ayo, pasti pernah alami juga sendiri 😀 ngaku deh.

Bagaimana payung kesukaan teman-teman? Saya suka payung yang terakhir saya beli, yaitu payung bertulang 16 (konon ini mengikuti lambang kekaisaran Jepang yaitu kuntum seruni yang sejumlah 16, lo) dan mempunyai lapisan plastik yang bisa menampung air hujan sehingga tidak menetes. Lumayan bisa membantu pelestarian lingkungan dengan menghemat pemakaian plastik payung yang disediakan toko-toko, kan.

#wibjnihongo#wibjbudayajepang

#payung#kasa#傘#相合傘

Denden Mushi

Teman-teman pernah dengar lagu anak-anak bahasa Jepang seperti ini?

Den den mushi mushi katatsumuri (wahai bekicot)

Omae no atama wa doko ni aru (kepalamu ada dimana?)

Tsuno dase yari dase atama dase (keluarkan tandukmu, senjatamu, kepalamu)

Jadi bekicot (siput) itu dalam bahasa Jepang namanya katatsumuri カタツムリ. Ini umum, tapi sebetulnya bisa disebut juga dengan den den mushi. Satu lagi yang terkenal untuk anak-anak balita adalah AOMUSHI (青虫 ulat hijau)dengan buku bergambarnya HARAPEKO AOMUSHI Ulat hijau yang lapar sekali 😃

Mushi 虫 itu sendiri berarti serangga/insekta. Jadi kalau ada segala jenis serangga yang tidak diketahui namanya, cukup katakan MUSHI. Untuk serangga kecil hitam yang suka terbang di atas pisang busuk? Mushi juga. Yang hitam-hitam ada di beras, juga mushi. Ada mushi yang saya benci yaitu Kabutomushi カブトムシalias kumbang tanduk. Anak laki-laki Jepang suka sekali mengumpulkan kabutomushi dan kuwagata temannya waktu musim panas. Duh, saya tidak bisa tidur waktu kabutomushi anak saya keluar dari kandangnya 😃

Mushi 虫memang banyak keluar di musim panas. Padahal musim panas di Jepang itu kan MUSHI-atsui 蒸し暑い むしあつい ya. Buat kita manusia, keadaan mushi atsui – panas lembab itu amat menyebalkan. Tapi si Mushi mungkin justru suka yang mushiatsui 😃

Maaf ya teman-teman Imelda bicarakan serangga, mungkin banyak yang masih sedang memasak, misalnya kukus ketupat! 蒸すmusu = kukus. Kalau saya sih paling banter beli ChawanMUSHI 茶碗蒸しdan MUSHI pan 蒸しパン = roti kukus (duh aku ngebayangin bolu kukus!). Ada cukup banyak kue tradisional Jepang yang dikukus juga loh. Yang pasti jangan sampai jadi MUSHIBA 虫歯 gigi berlubang karena kebanyakan makan kue besok ya…… (Saya selalu ajarkan murid bahasa Indonesia waktu menghafalkan kata musibah dengan: gigi berlubang mushiba itu musibah karena tidak bisa makan 😃 )

Hari ini tanggal 4 Juni, 6-4 dibaca MU-SHI, jadi ada beberapa peringatan yang ‘nyamber’ kata-kata mushi. Ada Hari Kabutomushi, ada juga hari Mushipan, atau mushi ryori (masakan yang dikukus). Juga Hari pencegahan gigi berlubang 虫歯予防の日. Dua hari terakhir saya merasa MUSHI-atsui むしあつい jadi sekalian saja disamber juga 😃

Semoga tulisan pendek saya hari ini tidak di MUSHI 無視 (dicuekin) teman-teman yaaaaa.