analytics, chart, drawing-3268935.jpg

Cancer Statistics in Japan-2023

Saya yakin kita semua pasti sudah tidak asing dengan penyakit kanker. Baik dari keluarga sendiri, teman dekat, maupun teman sekedar mengenal dari jauh, banyak yang sedang berjuang menghadapi kanker. Kanker bukan lagi penyakit yang langka, tapi sudah menjadi penyakit yang hampir sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari.

Di tulisan ini saya share proyeksi data statistik angka kejadian kanker di Jepang berdasarkan organ tubuh (tahun 2022) [Ref 1]
Pada pria, lima urutan teratas organ tubuh yang sering terjadi kanker:

1. Prostat (17%)

2. Lambung (16%)

3. Usus besar/colon-rectum (15%)

4. Paru-paru (15%)

5. Liver/hati (5%)

Pada wanita, lima urutan teratas organ tubuh yang sering menjadi lokasi kanker:

1. Payudara (22%)

2. Usus besar/colon-rectum (16%)

3. Paru-paru (10%)

4. Lambung (9%)

5. Uterus/rahim (7%)

Karena ini memang organ tersering yang terkena kanker, tidak heran penderitanya juga banyak. Pasti di antara kenalan teman-teman semua, ada yang mengalami salah satu dari jenis kanker tersebut.

Apakah jika terkena kanker pada organ-organ tersebut juga pasti menyebabkan kematian?

Ternyata urutan jumlah kematian terbanyak akibat kanker tidak sama dengan urutan organ tubuh yang sering menjadi lokasi kanker. (Lihat gambar yang saya sertakan)
Berdasarkan data jumlah kematian karena kanker tahun 2021 pada pria, urutan tertinggi diduduki oleh kanker paru-paru, usus besar/colon-rectum, lambung, pankreas, dan liver/hati.
Sedangkan pada wanita, urutan angka kematian karena kanker diduduki oleh usus besar/colon-rectum, paru-paru, pankreas, payudara, dan lambung.

Kanker prostat pada pria yang menduduki ranking satu terbanyak, ternyata bukan menjadi penyebab kematian terbesar. Kanker prostat termasuk tipe kanker yang bisa ditangani dengan baik, dan memiliki tingkat kelangsungan hidup yang tinggi hingga mencapai 95%. Begitupula kanker payudara di wanita, tidak menduduki peringkat atas penyebab kematian. Tingkat kelangsungan hidup kanker payudara saat ini juga sudah berhasil mencapai lebih dari 90%.

Salah satu faktor yang memberikan keuntungan di kedua jenis kanker ini, mereka dapat lebih cepat dideteksi. Nodul di payudara misalnya, bisa ditemukan dini sebelum ada gejala klinis yang jelas dengan pemeriksaan rutin payudara sendiri (SADARI) maupun dengan bantuan mammography.
Sebaliknya, kanker yang terjadi di organ dalam tubuh seperti paru-paru, lambung, usus besar, hati, pankreas dsb cenderung terlambat dideteksi karena tidak memberikan gejala klinis yang jelas dan tidak mudah didiagnosa melalui pemeriksaan sehari-hari. Akibatnya sering baru ketahuan setelah stadium lanjut dan telah terjadi penyebaran ke organ tubuh lain.

Saya sedikit fokus ke kanker pankreas. Kanker pankreas sebenarnya relatif jarang, tapi kalau bicara angka kematian, dia lompat memasuki urutan atas. Selain sulit untuk deteksi dini, pankreas merupakan organ vital yang lokasi anatominya menempel dengan organ-organ penting lain seperti liver, empedu, usus 12 jari, limpa, dan dikelilingi beberapa sumber pembuluh darah sehingga operasi di pankreas termasuk operasi yang “tricky”, tidak mudah dilakukan.
Penemu Apple -Steve Jobs, dan mantan gubernur Tokyo (1999-2012) – Shintaro Ishihara, meninggal karena kanker pankreas.
** Steve Jobs sendiri diberitakan menderita kanker pankreas tipe neuroendokrin (NETs: Neuroendocrine Tumors) yang relatif tidak terlalu agresif sehingga bisa bertahan cukup lama sejak ia didiagnosa tahun 2003 hingga meninggal tahun 2011. [Ref 2, 3]

Terlepas dari jenis dan tipe sel kanker yang memang secara karakteristik ada yang lebih agresif sehingga lebih sulit ditangani, satu hal penting yang mendasari prognosis semua kanker yaitu stadium saat kanker tersebut ditemukan. Semakin dini sel kanker bisa ditemukan, semakin banyak peluang penanganan yang bisa diambil. Hal ini akan sangat membantu mendorong tingkat kelangsungan hidup pasien. Jadi sekali lagi, jangan lewatkan tes penapisan kanker (cancer screening) seperti yang sudah saya tulis di artikel sebelumnya.

Penting juga untuk mengenali faktor resiko kanker yang dimiliki setiap individu. Contohnya: orang dengan hepatitis B virus (HBV) atau hepatitis C virus (HCV) carrier memiliki resiko terkena kanker hati lebih tinggi, orang yang terpapar Helicobacter pylori memiliki resiko terkena kanker lambung lebih tinggi, individu dengan riwayat keluarga dekat sedarah (ibu, kakak, adik – first degree relative) yang menderita kanker payudara di usia relatif muda beresiko lebih tinggi juga mengalami kanker payudara, orang yang tinggal di lingkungan yang terpapar serat asbestos memiliki resiko lebih tinggi terkena kanker paru-paru terutama jenis mesothelioma yang tergolong agresif, dsb.

Apakah jika tidak ada faktor- faktor resiko tersebut lalu kita pasti aman dari kanker?

Tidak. Pertambahan usia secara alami meningkatkan resiko setiap orang untuk terkena kanker. Paparan dari lingkungan, kebiasaan pola hidup sehari hari (merokok, alkohol berlebihan, sinar ultraviolet, obesitas, paparan hormonal, dsb) menjadi faktor resiko yang kadang sulit dihindari dalam kehidupan sehari-hari. Itu sebabnya cancer screening test sudah dianjurkan untuk rutin dilakukan sejak usia 40 tahun ke atas.

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat. Saya berharap jika ada yang selama ini belum pernah mengambil tes penapisan kanker meski sudah masuk target umur, bisa mulai mencoba untuk periksa ya ❣

Salam sehat,

Tokyo, 27 Juli 2023

Referensi:

1. https://ganjoho.jp/…/qa…/report/statistics/2023_jp.html
2. https://en.wikipedia.org/wiki/Shintaro_Ishihara
3. https://en.wikipedia.org/wiki/Steve_Jobs

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *