Hari(nya) Pendirian Jepang

Tanggal 11 Februari adalah 建国記念の日、Hari pendirian Jepang.

Bahasa Inggrisnya National Foundation Day, dan bahasa Jepangnya Kenkoku kinen no hi 建国記念の日. Kenkoku 建国 = Berdirinya negara, Kinen 記念= peringatan. Dan untuk cepatnya banyak yang mengatakan : Kenkoku Kinenbi, padahal SALAH.

Salahnya? Ya, karena sebetulnya di antara Kinen dan Hi itu ada NO の、Hari (nya) pendirian Jepang. Itu berarti bahwa tanggal ini 11 Februari BUKAN nya tanggal berdirinya Jepang, TAPI tanggal yang ditetapkan menjadi hari berdirinya Jepang.

Katanya kalau menurut penghitungan kalender sekarang, pada tanggal 11 Februari tahun 660 SM, Kaisar pertama Jepang Kaisar Jinmu 神武天皇 naik Tahta. Ini tercatat dalam Nihonshoki 日本書紀 buku sejarah Jepang resmi yang berasal dari zaman Nara (710-794) yang merupakan buku sejarah Jepang yang tertua dan Kojiki 古事記 tahun 712. Sebagai informasi Kaisar Naruhito yang sekarang adalah kaisar yang ke 126.

Tanggal 11 Februari ditetapkan sebagai Kenkoku Kinen no hi ini pada 1873 dan disebut sebagai Kigensetsu 紀元節 きげんせつ dan sempat dihentikan pada tahun 1948 oleh GHQ (General Headquarter = Amerika karena Jepang kalah perang). Dan baru kemudian diberlakukan kembali sebagai hari libur pada tahun 1966. Pada saat dulu, Kigensetsu ini merupakan salah satu peringatan penting dari 4 peringatan di Jepang (tgl 1 Januari, 11 Februari, 29 April dan 3 November).

Peringatan Kenkoku kinen no hi ini biasanya dirayakan di Jinja (Kuil Shinto) dan juga dengan parade di sekitar omotesando. Yang pasti setiap badan pemerintah akan memasang bendera Hinomaru hari ini (dan pada setiap hari libur nasional).

Ada satu informasi yang saya lihat pada acara televisi beberapa waktu yang lalu, yaitu ada 3 jenis pusaka kaisar yang terus dijaga turun temurun. Tidak ada satu orang pun yang tahu isi sesungguhnya, tapi kotak pusaka itu ada dan dirawat terus. Ketiga jenis pusaka itu adalah pedang tsurugi 天叢雲剣 (あまのむらくものつるぎ), bandul pusaka magatama 八尺瓊勾玉 (やさかにのまがたま) cermin kagami 八咫鏡 (やたのかがみ).

rekaan pusaka

Hari Kinro Kansha

BURUH dan Thanksgiving Day

Horreeee….  libur lagi. Libur apa? 勤労感謝の日 Kinro kansha no hi, Kinro 勤労 = buruh/pekerja, Kansha 感謝 = terima kasih. Hari untuk berterima kasih pada para buruh/pekerja. Tanggal 23 November ini diresmikan menjadi hari libur nasional sesuai UU Hari Libur Jepang, Shukujitsuho 祝日法 tahun 1948, untuk “menghormati buruh, merayakan produksi, dan saling mengungkapkan rasa terima kasih.”

Apakah sama dengan thanksgiving di Amerika? atau apa bedanya dengan Mayday tanggal 1 Mei?

Sebetulnya sesuai dengan terjemahan di atas, hari ini merupakan perpaduan dari Hari Buruh dan Hari Thanksgiving. Dulu pada tanggal 23 November kalender kuno, diadakan festival panen “gokoku” 五穀 yang diberi nama Niinamesai 新嘗祭. Gokoku 五穀 itu apa? Kalau lihat kanjinya ada huruf 5, berarti 5 jenis biji-bijian yaitu beras, gandum, kedelai dan azuki (kacang merah), satunya berganti-ganti dengan kacang-kacangan. Kelima biji-bijian ini merupakan makanan pokok masyarakat Jepang saat itu. Mungkin kalau di Indonesia seperti sembako ya (ayooo bisa sebutkan sembilan bahan pokok itu apa saja?  ).

Pada pesta Niinamesai ini, kekaisaran mengucapkan syukur atas panenan tahun itu, dan upacara ini dimulai pada jaman ASUKA (592-710). Berlangsung terus sampai Jepang kalah, dan GHQ (Amerika) menyuruh Jepang menghentikan semua upacara yang berhubungan dengan kekaisaran. Sejak itulah dinamakan Kinro Kansha no hi.

Tapi seperti teman-teman ketahui, banyak hari libur Jepang yang dipindahkan ke Senin sehingga menjadi Happy Monday ya. Kinro Kansha ini tidak dipindahkan dan tetap dirayakan tanggal 23 November ya karena ada sejarahnya yang cukup lama. Sehingga pemerintah “takut kualat”  mengganti tanggal hari libur menjadi Senin . Hari ulang tahun Kaisar kan juga tidak dipindah ke hari Senin ya hehehe.

Bagaimana orang Jepang melewatkan Hari Pekerja ini? Ada beberapa Jinja (Kuil Shinto) yang mengadakan acara, tapi biasanya anak-anak disuruh guru TK- nya untuk memijat papanya atau berekreasi bersama. Sayangnya keluarga saya kebanyakan JUSTRU bekerja pada hari Kinro Kansha, seperti juga hari ini. Benar-benar deh tidak dihargai  (sudah biasa sih ). Saya senang sekali hari ini tidak ada kuliah di Universitas, tapi mesti mengerjakan yang lain (sami mawon)

Cuma kita di WIB-J juga mesti protes nih, karena ibu-ibu kan juga PEKERJA ya. Malahan Pekerja Serabutan  Jadi mestinya ibu-ibu juga libur ya… 🙂

Tulisan asli oleh: Imelda Coutrier

Tanpa MU

TANPA MU 無

Aduh, sudah mulai menghitung hari memasuki Desember ya. Bulan terakhir, yang sering disebut dengan SHIWASU 師走 nama asli bulan Desember bahasa Jepang kunonya. Kedua kanji itu berarti “pendeta Buddha berlari”. Mana pernah kita melihat pendeta Buddha berlari? Setiap gerakan pendeta Buddha anggun dan penuh makna, jadi kalau dia sampai berlari berarti benar-benar sibuk. Osooji 大掃除 (membersihkan kuil/ rumah besar-besaran), mengirim oseibo お歳暮 (hadiah musim dingin pada orang tertentu), mempersiapkan nengajo 年賀状 (kartu tahun baru) yang harus dikumpulkan di kantor pos paling lambat tanggal 25 Desember, jika kita mau agar kartu itu sampai tepat tanggal 1 Januari tahun depannya.

Nah, kalau sibuk begitu, rasa-rasanya kita mau menyingkat pekerjaan kita ya. Sedapat mungkin lebih cepat selesai daripada biasanya. Dan menurut saya, salah satu trik agar lebih cepat di dapur adalah dengan memakai MUSENMAI 無洗米 beras tanpa (harus) dicuci. Mu 無 = tanpa , sen 洗 = cuci (kanji arau) dan mai 米 = beras. Lalu dicucinya pakai bowl MUJIRUSHI 無印(良品) 無 mu 印 jirushi tanpa merek.

Kemudian masaknya pakai bahan-bahan yang MUTENKA 無添加, mu 無 = tanpa, tenka 添加 = tambahan (pengawet) , MUCHAKUSHOKU 無着色, mu 無 = tanpa, chakushoku 着色 = pewarna, MUKOURYOU 無香料, mu 無 = tanpa, kouryou 香料 = wangi (tambahan)

Cari resepnya pakai internet yang MUSEN 無線 alias WIFI, mu 無 = tanpa, sen 線 = kabel

Daaaaan semuanya itu akan menyenangkan kalau dapat dengan MURYOU 無料 alias gratis, mu 無 = tanpa, ryou 料 = biaya. Hohoho!

Selamat berkreasi terus teman-teman WIB-J , karena sudah pasti tidak ada usaha yang MUDA 無駄 = sia-sia. Sehingga kita bisa menjadi wonderwoman yang mempunyai MUGEN POWER! Mugen 無限 tanpa batas. Tapi ingat kita tidak perlu 年中無休 Nenjuumukyuu 年中 = sepanjang tahun, 無休 = tanpa istirahat yaaaaaa. Karena kalau tanpa istirahat itu MURI 無理 (tidak mungkin, impossible)!

Akhirnya BUJI 無事 (tanpa rintangan) tulisan ini selesai

Saya sudah lama ingin menuliskan tentang MU 無 ini. Awalnya dari beras tanpa dicuci dan juga teringat jaman baheula waktu masih di Jakarta, mobil-mobil sering ditempeli stiker bertuliskan Mugen Power. Hayooo jangan-jangan cuma saya yang pernah baca mugen power di Indonesia

無 Sebuah kanji yang praktis, yang artinya tanpa, non-, meskipun dibaca bisa sebagai 無い ない nai (tidak), atau seperti kata BUJI, dia berubah dari mu menjadi BU. BUNAN 無難 (selamat/aman) juga dibaca sebagai bu, bukan mu. (Masih ada beberapa kanji yang dibaca sebagai BU, seperti bukiyou, bukimi, burei dll).

TAPI untuk menyatakan negatif atau tanpa ini, bukan hanya kanji 無 saja, masih ada 不 fu, dan 非 hi. Kali ini saya jelaskannya tentang mu saja dulu ya…

Mudah-mudahan tulisan saya di bulan November ini bisa berguna, dan jangan di MUSHI 無視 ya ( jangan dicuekin gitchuuuuu :D)

Tanpa MU aku nangis loh…

Tulisan asli oleh: Imelda Coutrier

Keirou no Hi

Hari Penghormatan bagi Lansia.

Loh, memangnya lansia di Jepang tidak dihomati ya? Sampai harus menetapkan peringatan untuk Lansia? Mengapa ada hari libur yang disebut sebagai Hari Lansia itu sih?

Konon pada tahun 1947, di sebuah desa di Prefektur Hyogo, menetapkan adanya hari 年寄りの日 Toshiyori no Hi (Hari orang tua), dengan slogannya “Kita pinjam akal pikiran orang yang tua untuk membangun desa kita”. Karena tanggal 15 September itu dianggap merupakan hari paling cerah, maka setiap tanggal 15 September itu diperingati Hari Lansia, dan dari desa tersebut pada tahun 1950 menyebar ke seluruh prefektur, dan pada tahun 1966 resmi hari Lansia ini menjadi hari libur nasional. (Hebat ya…mulai dari desa tuh..)

Sampai dengan tahun 2002, Hari Lansia 敬老の日 ini selalu diperingati setiap tanggal 15 September apapun harinya. Tapi sejak ada kebijaksanaan Happy Monday (membuat hari libur beruntun Sabtu, Minggu, Senin, seperti di Indonesia lah), maka sejak tahun 2003 berubah menjadi Minggu ke 3 bulan September.

Lalu pada hari ini Lansia ngapain? Ya biasa saja sih, tapi biasanya dari pemerintah daerah di tempat tinggalnya, ada hadiah dibagikan pada lansia ini (biasanya berupa kue Jepang Manju merah putih atau Kastela). Ada juga pemda yang memberikan angpao (hadiah berupa uang). Bagi lansia yang punya cucu-cucu biasanya hari ini juga bisa diadakan “pertemuan” keluarga. Makan-makan dan minum-minum gitchuu.

Bila ditanya, yang namanya Lansia itu dari usia berapa? Hmmm susah juga ya. Jawabannya semua orang yang sudah tua = lansia. Semestinya dari usia 60 tahun karena dalam kalender Cina (Shio) manusia itu genap 5 kali mengalami satu putaran kehidupan yang lamanya 12 tahun (Satu putaran itu ada 12 shio) dan dalam bahasa Jepangnya disebut Kanreki 還暦. Pada usia 60 tahun ini juga biasanya pegawai akan berhenti pensiun. Orang yang memperingati ulang tahun ke 60 ini akan diberikan 赤いちゃんちゃんこ akai-chanchanko yaitu sejeniss rompi dan topi berwarna merah. Tapi karena usia harapan hidup orang Jepang semakin tinggi, umur 60 tahun belum dianggap tua. Kalau boleh saya menetapkan (menurut saya loh) Lansianya Jepang itu mulai 70 tahun.

Nah sebetulnya ada beberapa peringatan khusus bagi lansia setelah Kanreki (60 tahun), dan masing-masing ada namanya.

Usia 70 th, namanya 古希 KOKI, warna ungu

Usia 77 th, namanya 喜寿 KIJU, warna ungu.

Usia 80 th, namanya 傘寿 SANJU, warna kuning

Usia 88 th, namanya 米寿 BEIJU, warna kuning

Usia 90 th, namanya 卒寿 SOTSUJU, warna putih

Usia 99 th, namanya 白寿 HAKUJU, warna putih

Usia 100 th, namanya 紀寿 KIJU atau 百寿 HYAKUJU , warna putih

Usia 108 th, namanya 茶寿 CHAJU, 111th 皇寿 KOUJU dan 120 th 大還暦 DAIKANREKI.

Sebutan-sebutan peringatan ini juga menarik, jika dilihat dari penulisan kanjinya (tapi sulit untuk bisa saya terangkan tertulis).

Tapi perlu diperhatikan bahwa selain kanreki yang diperingati persis waktu seseorang berulang tahun ke 60, peringatan lainnya biasanya diperingati menurut 数え歳 kazoedoshi, yaitu dikurangi 1 tahun. Kazoedoshi ini terjadi karena perhitungan jika bayi lahir itu sudah berusia 1 tahun. Saya pernah salah terlewatkan memperingati KIJU untuk bapak mertua, pikirnya pas dia berulangtahun ke 77, tahunya sudah terlewat, justru saat itu dia sudah 78 th menurut kazoedoshi.

Jumlah lansia tahun 2018 belum diumumkan tapi tahun lalu saja jumlahnya sudah 27,7 persen dari jumlah penduduk sebanyak 35 juta jiwa. Fenomena 高齢化社会 masyarakat yang semakin menua ini di satu pihak menggembirakan, tapi di lain pihak membawa masalah bagi negara. Tapi saya selalu senang melihat lansia di Jepang, banyak yang tetap bersemangat untuk hidup sehat dan tetap beraktifitas/ berguna bagi masyarakat. Semoga kita semua bisa seperti lansia Jepang ya…..

Tulisan asli oleh: Imelda Coutrier

KUJI UNDIAN

Siapa yang tahu kanjinya? Nah karena saya posting malam, mungkin banyak yang menebak: 九時 くじJam 9 ya?

2 September kalau diringkas menjadi 9/2 kalau penulisan cara Jepang, lain dengan cara Indonesia, jadi mesti berhati-hati kalau meringkas tulisan tanggal ya. Jangan 2/9 karena itu dibaca orang Jepang 9 Februari!

Tanggal 2 september adalah hari KUJI, karena kemarin 9/2 bisa dibaca KUJI (2 ニ itu bisa dibaca : ni, futatsu, dan ji seperti pada nama JIRO yang kanjinya 二郎) . Kuji yang diperingati tanggal 2 September itu adalah KUJI dari TAKARAKUJI 宝くじ, undian berhadiah yang ditetapkan oleh Bank Daiichikangyo (Sekarang Mizuho).

Dulu sekali di Indonesia pernah ada yang namanya SDSB (SDSB, Sumbangan Dana Sosial Berhadiah, merupakan kupon berhadiah bagi para pembelinya. Kupon yang mirip voucher ini didalamnya terdapat nomer seri dan angka. Intinya Anda menebak, kalau tebakan Anda benar, Anda dapat hadiah.) yang kemudian dihentikan oleh pemerintah Indonesia tahun 1994, karena dianggap sebagai judi.

Saya, sebagai orang Indonesia yang baik (ciee), belum pernah beli undian. Tapi waktu awal kedatangan di Jepang, saya tinggal bersama keluarga Jepang, dan nenek di keluarga itu minta tolong saya beli 10 lembar takarakuji (@300 yen).

Katanya,”Imelda, saya mau beli takarakuji tapi tidak bisa beli sendiri. Ini uang 3000 yen, kamu tolong belikan ya. Mungkin bisa beruntung dapat kalau kamu yang beli”.

Jadilah saya membawa uang 3000 yen itu ke loket penjualan takarakuji dong. Begitu sampai di depan loket:

“Takarakuji Ju mai kudasai” (Minta takarakuji 10 lembar)

“Bara? Renban?”

Nah loh, saya bengong. Bahasa Jepang saya belum sampai situ. Bara? Oh mungkin yang kertasnya ada gambar mawar ya? Renban… mbuh lah, saya Cuma tahu Rembang nya Jepara! Jadilah saya bilang:

“Bara 10 mai”

Begitu pulang, saya diberitahu bahwa lebih baik membeli Renban 連番 (nomornya berurutan) daripada bara バラ (nomor acak), karena Renban itu kesempatan 当選 とうせん terpilihnya lebih besar. Baru tahu bahwa bara itu dari bara-bara (berserakan) 😃 Gimana sih orang Jepang kok singkat-singkat aja!

Lalu takarakuji yang saya beli bagaimana ceritanya? Saya tidak tahu karena tidak tanya. Tapi sepertinya sih tidak lolos deh. Tapi peristiwa membeli takarakuji itu membuat saya penasaran, uang takarakuji itu untuk apa ya? Ternyata banyak dipakai untuk pembangunan fasilitas umum, termasuk membiayai penanganan pertambahan manula, bencana, taman, pendidikan, kesejahteraan dan lain-lain.

Kemudian saya jadi penasaran dengan kata KUJI, karena tentu bukan kata takarakuji saja yang mengandung kata KUJI ini. Yang paling sering dipakai adalah KUJI wo hiku くじを引く(menarik undian) atau KUJIBIKI. Misalnya pada pemilihan pengurus PTA (Parent Teacher Assosiation) di sekolah. Tidak ada yang mau menjadi pengurus, sehingga harus memilih dengan cara mengundi. Saya pernah menjadi pengurus PTA karena terpilih dengan undian dan tidak bisa menolak deh (saya dengar Zya Rahmi juga begitu, bahkan sampai jadi Wakil Ketua! Hebat!) . Dan sebetulnya penarikan undian juga bentuknya bisa bermacam-macam. Ada yang dengan menulis nama/nomor di kertas, kemudian diambil satu orang. Ini lazim juga dilakukan di Indonesia.

Tapi ada satu cara “pemilihan” itu yang saya rasa menarik, yaitu AMIDAKUJI あみだくじ. Cara pemilihan khas Jepang. (Namanya saja AMIDA sebutan untuk Sang Buddha). Misalnya untuk memilih pengurus secara seimbang, bilang saja memilih seksi kebersihan, seksi konsumsi dan seksi acara, 3 jenis pekerjaan untuk 3 orang. Kita menuliskan 3 nama di atas, lalu 3 jenis pekerjaan di bawah, lalu antara orang dan pekerjaan dihubungkan dengan garis vertikal, dan masing-masing orang menarik garis horisontal sesukanya. Ntah mengapa, sebanyak apapun garis horisontalnya, pasti setiap orang akan mendapatkan pekerjaan yang berbeda. (Maaf mungkin kurang bisa dimengerti dengan kata-kata dan lebih baik dipraktekkan).

Tapi yang paling menarik adalah kata OMIKUJI 御神籤 pun berasal dari KUJI. Memang sih arti KUJI 籤 (susyahlah kanjinya!) sesungguhnya adalah memilih. Kalau pakai kata mengundi kesannya bagaimana gitu. Bagi yang pernah membeli OMIKUJI di kuil Jepang, pasti tahu ya, kita memasukkan uang, lalu mengocok tabung yang berisi batang bambu bernomor. Lalu kita lihat batang yang keluar dari lubangnya nomor berapa. Kemudian kita ambil kertas dari laci bernomor yang tertera pada batang pilihan kita.

Dari sekian banyak KUJI yang saya tuliskan, KUJI yang mana yang sudah pernah coba?

Belum semua?

Hmmm mungkin sudah loh, yaitu dengan cara BINGO (dalam bahasa Jepang disebut BINGO KUJI) dan BINGO game ini menarik sekali! Apalagi kalau kartu yang kita bagikan itu masih kosong semua, sehingga bisa tulis angka sesukanya. Saya pernah bawa dan mainkan di keluarga besar saya, dan semua senang. SERU!

Bousai no Hi

Hari ini tanggal 1 September adalah hari Mitigasi Bencana, Disaster Prevention Day atau bahasa Jepangnya Bousai no Hi 防災の日. Mengapa ditetapkan tanggal 1 September? Karena pada tanggal ini di tahun 1923 pukul 11:58 siang telah terjadi Gempa bumi besar Kanto yang banyak menelan korban 142.500 korban meninggal/hilang.

Sudah pernahkah teman-teman mengikuti 避難訓練 ひなんくんれん hinan kunren atau latihan-latihan mitigasi bencana? Memang selama pandemi tidak ada, ya. Padahal bencana itu bisa terjadi sewaktu-waktu. Saya ingat waktu mengikuti latihan bencana di sebuah universitas. Saya sebagai dosen, begitu terdengar alarm, harus mengumumkan: “Ayo, berlindung di bawah meja!”. Lalu memerintahkan mahasiswa untuk mengikutiku, menuruni lantai 3 ke tempat pengungsian yang sudah ditetapkan, yaitu lapangan di sebelah gedung 10. Sebagai tanda “terima kasih” kami menerima nasi dan biskuit tahan lama yang bisa disimpan 6 bulan. Tapi yang sempat membuat saya tertegun waktu mendengar dari kepala pelatihan yang mengatakan bahwa sebetulnya setelah latihan mengungsi ini, ada beberapa acara yang dilakukan di depan kampus, termasuk latihan pemadam kebakaran dan pengungsian dalam ruangan berasap (tahun lalu saya pernah ikut ruangan berasap ini). TETAPI ternyata semua unit pemadam kebakaran yang sedianya dipakai untuk latihan di universitas, dipanggil karena ada kebakaran sungguhan yang cukup besar sehingga semua unit dipanggil. Nah, kan. Bencana bisa terjadi setiap saat.

Biasanya untuk anak SD/SMP ada latihan bersama setiap bulan, bersama guru dan kepala sekolah. Saat itu ibu-ibunya tidak bisa ikut, tapi ada latihan yang namanya 引き渡し訓練 ひきわたしくんれん Hikiwatashikunren. Latihan penyerahan anak (dari pihak sekolah) kepada orang tua. Orang tua diharapkan (tidak wajib, sih) menjemput anaknya masing-masing. Saat itu kami orang tua harus menyebutkan nama murid dan hubungan apa (ibu/bapak/nenek/kakek) dengan sang anak. Ini supaya guru tidak menyerahkan pada orang yang salah, atau bisa menjawab jika ditanya anak ini dijemput siapa.

Satu lagi pengalaman saya mengikuti latihan di SMP. Karena saya sekretaris PTA waktu itu, wajib ikut dan membantu sekolah dalam latihan tersebut. Tugas kami adalah memasak nasi Alpha アルファ米 Alfamai. Nasi Alpha ini cukup diberi air panas dan ditunggu 15 menit, jadi! Saya pernah punya ukurannya kecil, ukuran 1 orang. Ternyata ada yang ukuran besar, untuk dapur umum. Satu kantung besar 50-60 orang. Karena kami ada 4 kelompok jadi waktu itu membuat nasi untuk 300 orang! Kantung besar itu diletakkan dalam satu kardus besar. Setelah nasi itu jadi, kami masukkan dalam plastik untuk dibagikan.

Nah, waktu membuat nasi Alpha ini, ada satu yang saya perhatikan. Waktu membuka kardus ada plastik alumunium berisi beras. Dan di dalam kardus itu tersedia pula sarung tangan plastik, plastik untuk pembagian nasi, sendok kecil, karet gelang untuk menutup plastik, dan yang menakjubkan ada juga GUNTING DARI KERTAS. Gunting itu cukup memadai untuk membuka plastik itu. Hebat ya, orang Jepang itu memikirkan semuanya sampai ke detail begitu. Bayangkan kalau dalam bencana mau buka plastik tapi tidak bisa. Sampai ke situ loh dipikirkan, dibayangkan dalam simulasi.

Tinggal di Jepang berpuluh tahun memang membuat saya juga memikirkan banyak hal. Jika ingin mengadakan kegiatan, bagaimana jika terjadi sesuatu, apakah sudah ada back upnya? Apakah siap plan A dan plan B?

Eh… kok malah melantur. Yang penting kita harus selalu mempersiapkan diri, ya.

Tentu sudah tahu apa saja yang perlu dipersiapkan dalam menghadapi gempa bumi, ya.

Tulisan asli oleh: Imelda Coutrier

Taikei

Liburan musim panas saya berakhir tanggal 30 Agustus! yaaahhh malas, deh.

Dalam suasana liburan biasanya kita mau tidur sampai siang, ya. Tapi ternya saya tidak bisa ! 😃 Karena setiap hari saya bangun jam 4:45, otomatis saya bangun jam segitu, padahal alarm HP saya bunyi jam 5 pagi (saya otomatis set minimum harus tidur jam 12 dan bangun jam 5). Tainai dokei 体内時計 jam tubuh saya ya sudah jam 4:45 itu. 体 tai (kalau sendiri dibaca karada) artinya tubuh(badan) dan 内 nai itu dalam. 体育 たいいく taiiku = mendidik badan= sport. Dan saya rasa sebagian besar ibu-ibu sudah punya tainai dokei ya?

Anak sulung saya hidupnya sangat teratur. Dia pasti bangun jam 6, langsung turun ke bawah, dan minta makan pagi jam 6:30, sesudah itu mandi jam 7 dan berangkat jam 8. Tainai dokeinya sudah terbentuk sejak SMP kelas 1. Saya juga berharap anak kedua saya, dapat membentuk tainai dokeinya sendiri. Sekarang duhhh… susah sekali dibangunkan! Kalau dibiarkan dia bisa bangun jam 12 siang lebih! 誰に似ただろうDareni nita darou , mirip siapa ya? 😃

Kalau bicara soal 体 karada, wanita selalu (eh saya deh 😃binkan 敏感 sensitif hehehe. Apalagi mengenai TAIKEI. Nah kalau mencari kanji Taikei ini sebetulnya ada 4 kanji (bacanya sama, kanjinya beda) yang biasanya keluar di komputer yaitu 体系, 大系, 体型, 体形

体系taikei, sistem, struktur, atau pengelompokan. Biasanya dipakai untuk menggambarkan bagan struktur organisasi, atau pengelompokan bidang ilmu.

大系 taikei, ini dipakai dalam percetakan/ buku untuk mengelompokkan jenis-jenis buku untuk memudahkan pencarian. Misalnya pendidikan bahasa Jepang dsb. Mungkin dalam kehidupan sehari-hari kita di medsos, ini ditandai dengan hashtag.

体型 taikei, adalah penggambaran apa yang dilihat dari manusia/hewan/benda. Bentuk badan. Misalnya 瘦せ型yasegata (kurus) , 肥満型himan gata (gemuk)

体形 taikei, bentuk tubuh. Kalau 体型 merupakan pengelompokan dari suatu perbandingan, 体形 ini langsung merujuk bentuk badannya. Jadi memang dua kata ini mirip. Dalam surat kabar biasanya dijadikan satu pemakaian yaitu 体形.

Berbahagialah mereka yang termasuk dalam kelompok 瘦せ型yasegata, karena biasanya tidak sulit membeli baju dan modelnya macam-macam. Yang sulit mungkin adalah menahan diri supaya tidak belanja 😃. Tapi untuk yang masuk 肥満型himan gata, biasa sulit mencari ukuran dan model yang cocok. Pernah saya mau membeli baju di supermarket dan bertanya pada petugasnya. Apakah ada baju untuk saya yang デブDEBU ini? Lalu dia berkata, kamu tidak DEBU. OK untuk saya yang 太っている futotteiru ini? Dan dia berkata, untuk kamu yang ふくよかな fukuyokana ada baju yang ini. Saya tahu dia hanya memperhalus penyebutan. Debu itu kasar, biasa dipakai untuk mengejek. Futotteiru memang kondisinya begitu, pemakaian normal. Tapi untuk menghaluskan kata futotteiru itu lebih baik memakai kata yang tidak langsung “gemuk” yaitu dengan fukuyokana. Arti sebenarnya menggambarkan sesuatu yang besar dan empuk. Dan biasanya dipakai untuk menggambarkan bau atau rasa. ふくよかな香り・味わい fukuyokana kaori/ ajiwai. Biasanya untuk wine yang full bodied.

Selain memakai kata fukuyokana, ada pula kata ぽっちゃりpocchari. Artinya sih ya kira-kira sama dan hanya dipakai untuk bentuk tubuh. Apa bedanya dengan Fukuyokana? Fukuyokana dipakai untuk wanita dewasa, sedangkan pocchari lebih muda 😃 (ketahuan deh saya sudah tua hihihi). Ada lagi sebutan lain tapi saya jarang dengar yaitu 肉づきがいい nikuzuki ga ii、ふくらか fukuraka、福々しい fukubukushii. Satu lagi yang pasti pernah dengar adalah 肥満 himan yang berarti obesitas. Jadi masih bersyukurlah kalau dikatakan Fukuyoka atau pocchari daripada himan 😃 (padahal sama saja semua dalam bahasa Indonesia : gemuk).

Oh ya jangan kebanyakan minum pocari (sweat) ya nanti jadi pocchari loh

ENRYO NO KATAMARI 遠慮の塊 

Kalau mau “maksa” menerjemahkan enryo no katamari ini, yaitu “kumpulan keseganan”. Hmm pasti pinto konai ne (pasti tidak mengerti ya).

Begini, tadi saya pergi bersama keluarga ke sebuah restoran. Kami memesan kentang goreng, dan pada waktu terakhir di atas piring hanya tertinggal satu kentang goreng. Semua lihat-lihatan. “Mama aja!”… “Nggak usah, kamu aja!”

Kondisi seperti ini,一つ残しhitotsu nokoshi sisakan satu yang terakhir. Nah kalau kondisi ini di keluarga, pasti adalah yang mau makan terakhir. TAPI, jika kondisi ini waktu pergi dengan teman-teman kantor JEPANG, mereka pasti akan tunjuk-tunjukan, dan akhirnya tidak ada yang makan. Semua serba salah. Lebih baik tinggalkan satu daripada dianggap tidak sopan.

Nah kemudian di daerah Kansai (tahu sendiri orang Kansai kan lebih gradak-gruduk daripada orang Kanto hehehe), mereka akan mengatakan “遠慮の塊もらいます Enryo no katamari moraimasu”, secara nuansanya “Kalian semua segan, jadi saya saja yang makan”

Enryo 遠慮 itu segan/sopan sedangkan katamari 塊 itu sebongkah, sekumpulan. Katamari misalnya bisa dipakai waktu mau beli daging yang belum dipotong-potong. Niku no burokku (block) atau niku no katamari.

Kata 遠慮 Enryo memang sering dipakai di Jepang sekarang misalnya, 「マスクなしの入店はご遠慮ください」masuku nashi no nyuutenwa goenryokudasai. Maksudnya melarang masuk ke dalam toko tanpa memakai masker, tapi dengan kata-kata yang sopan. Jadi kalau mendengar sesuatu dan di akhir kalimat ada “ご遠慮ください goenryokudasai“ maksudnya sih jangan melakukan hal itu. Ingat-ingat ya 

Tapi kadang kadang kita juga mendengar, “遠慮しないで、言ってくださいね Enryo shinaide, yuttekudasai ne” Jangan segan-segan (malu-malu), bilang saja ya. Dengan tingkatan bahasa yang lebih sopan, misalnya memakai istilah 遠慮せずに、おっしゃってください。Enryo sezuni, osshattekudasai. Dan lain-lain. Artinya sih sama saja.

Jika kita mau menolak sesuatu dengan sopan, kita bisa memakai kata 遠慮しますenryoshimasu. Atau lebih sopannya 遠慮させていただきます enryosaseteitadakimasu

Tapi kalau memang kita mengiyakan atau menerima tawaran dari orang lain, biasanya kita akan menjawab dengan “遠慮なくいただきますenryo naku itadakimasu”. Misalnya ada teman yang mau memberikan kita kado tas gucci yang mahal itu, jangan asal terima ya. Pura-pura bilang “aduh kok mahal sekali …. watashini wa mottainai tidak pantas untuk saya”… Kalau si dia bilang, “tidak apa-apa terima saja”, baru kita katakan ….. “Hai, enryo naku itadakimasu” . Ungkapan ini, kadang saya ganti dengan お言葉に甘えてokotobaniamaete….. artinya kira-kira “Saya lakukan sesuai perkataanmu deh”.

Jangan sampai kita dicap orang Jepang 遠慮のない人 enryo no nai hito, orang yang tidak tahu malu  Kan, lebih baik mendengar, “Eh si Imelda 遠慮深い人だ enryobukai hito (orang yang penyegan) daripada 遠慮のない人だ enryo no nai hito (orang yang tak tahu malu)”

Saya harap penjelasan saya hari ini bisa dimengerti dan bisa dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari ya. Pemakaiannya agak sulit memang, tapi kalau memperhatikan percakapan orang Jepang, pasti bisa menangkap nuansanya.

Tulisan asli oleh: Imelda Coutrier

Si tukang ulek ゴマすり

Di Jepang memang tidak ada ulekan seperti di Indonesia, tapi ada suribachi すり鉢 yang dilengkapi dengan tongkat kayu. Biasanya dipakai untuk menghaluskan goma (wijen) 胡麻を擂る goma wo suru . Biasanya suru itu ditulis dengan hiragana, karena kanjinya susah, ‘te’ dan ‘kaminari’. Kebayang ngga ya kalau mau buat sambal pakai suribachi ini? Kapan jadinya? Hehehe

Tapi harap berhati-hati kalau teman-teman mendengar kata goma wo suru. Karena bisa jadi yang dipercakapkan bukan menghaluskan wijen, tapi berarti “menjilat”. Goma wo suru secara kiasan berarti mengusahakan apa saja untuk kepentingan/keuntungan sendiri. Bisa memuji atau berbicara halus, tentang seseorang, supaya dia disukai. Lip service. Kalau bukan untuk kepentingan sendiri, tentu tidak bisa dikatakan goma wo suru.

Contohnya :

「先輩はごますり上手だったので出世が早かった」

Sempai wa gomasuri jozu dattanode shusse ga hayakatta.

Sempai pandai menjilat (memuji) sehingga cepat naik pangkat.

「ごますりだとわかっているのに、嬉しかった」

Gomasuri dato wakatteirunoni, ureshikatta.

Saya tahu dia menjilat, tapi saya senang.

Dan lucunya kalau di negara Amerika/Eropa, jika “berbohong” demi lip service ini, biasanya taruh tangan di belakang dan menyilangkan telunjuk dan jari manis ya? Kalau di Jepang, biasanya orang meniru tindakan memutar tongkat di atas telapak tangan. Coba deh perhatikan 

Mungkin ada teman-teman yang mengetahui kata lain dari “menjilat” ini yaitu oseji お世辞. Saya rasa oseji memang lebih sering dipakai. Kemudian ada kata lain yang jarang terdengar yaitu obekka おべっか atau obenchara おべんちゃら.

Lalu kenapa menghaluskan wijen goma wo suru punya kiasan seperti itu? Kalau kita perhatikan waktu memutar tongkat untuk menghaluskan wijen, wijen itu bisa terbang loncat ke mana-mana, nempel ke mana-mana. Jadi cocok untuk “penjilat” yang bisa nempel ke mana saja asal ada untung untuk dirinya.

Waktu saya mencari kata bahasa Indonesianya “penjilat/menjilat” ini, saya menemukan frase “menjilat pantat”… hiiiii jorok ya? Tapi ternyata ini sama dengan bahasa Inggris yang brown-noser. Atau juga di bahasa Cina memakai istilah “memukul pantat kuda”.

Semoga kita jangan jadi penjilat ya? Lebih baik jilat es krim dong, hehehe.

Tulisan asli oleh: Imelda Coutrier

Moriawase 盛り合わせ

Hari ini saya mau menulis tentang si Mori, tapi bukan yang kanjinya 森 もり yang artinya HUTAN, tapi 盛り yang asalnya dari moru 盛る、 yang artinya menyajikan, membubuhkan atau menumpuk. Kanji 盛り yang terlihat sama ini, juga bisa dibaca dengan sakari さかり. Dari sakari berubah lagi bunyinya menjadi sakanna 盛んな. Secara Onyomi, kanji dibaca menjadi SEI せい。Jadi kanji ini punya banyak bacaan dan banyak arti tergantung paduan kata atau kalimatnya.

Untuk sakari dulu, yang saya rasa kita sebagai emak-emak sering dengar adalah tabezakari 食べ盛り. Apalagi seperti saya yang punya dua anak laki-laki remaja, “料理は大変ですね。今食べ盛りもんね。Ryori wa taihendesune. Ima tabezakarimonne” “Kamu susah mesti masak ya. Anak-anakmu sekarang dalam masa pertumbuhan sih ya (banyak makan)”. Untung yang dibilang masa pertumbuhan 育ち盛り sodachizakari itu anak-anaknya, BUKAN saya hahahaha. Dan, sebetulnya anak-anak saya tidak begitu suka makan nasi yang 山盛り yamamori (ditumpuk banyak seperti gunung, nasi menggunung). Soalnya mereka sedang diet seperti mamanya 😃.

Nah, kalau pergi ke restoran, anak-anak yang sedang pertumbuhan itu pasti minta gohan oomori ごはん大盛り. Nasinya size JUMBO 😃 eh BESAR deh, karena kalau JUMBO itu TOKUMORI 特盛

Misalnya teman-teman ada pesta yang meriah, setelah selesai semua bilang, “盛大なパーティーありがとうね。Seidai na party arigatoune” Terima kasih untuk pesta yang meriah. 盛大 Seidai di sini artinya meriah. Tapi bisa juga dikatakan, “盛り上がりましたね。Moriagarimashita ne“ Sama saja artinya, “meriah ya”.

Oh ya, kemarin saya menerima hadiah dari seorang teman 手作り tezukuri pie!Begitu lihat saya langsung berkata “愛情を盛り込んでいる dipenuhi cinta” karena saya tahu 大変 taihen untuk membuat hiasan seperti itu, dan pasti makan waktu lama. Jadi saya bisa merasakan cintanya tertuang dalam kue buatannya.

Ada juga suatu kali, jika kita tidak tahu mau memesan apa, semisal di toko sushi, biasanya kita akan minta 盛り合わせ moriawase, set yang campuran, yang isinya sudah disesuaikan oleh pembuatnya. Kata moriawase ini sering kita temui di toko-toko atau restoran-restoran. Assortment/combination deh.

Dan terakhir saya yakin teman-teman ada yang suka bingung mempersiapkan hidangan tahun baru, osechi ryori. Paling aman memang beli jadi sih, tapi tahun ini saking sibuknya, saya lupa memesan osechi ryori. Bapak mertua juga sudah berkata, “Tidak usah beli! Toh tidak ada yang makan! Beli beberapa yang kita mau saja”. Iya juga sih, tapi males euy untuk 盛り付ける moritsuke printilan begitu. Moritsukeru itu artinya menyusun, menghias makanan di atas piring supaya terlihat bagus. Plating istilahnya mbak Dian. Dan orang Jepang paling canggih kan. Yang rasanya biasa-biasa saja terlihat enak ya? Meskipun saya pernah diberitahu oleh ibu indekos saya, “Yang penting mel, susun semuanya seperti menggunung. Pasti bagus hasilnya”.

Oh ya, ada tambahan, kalau kita pergi ke restoran Jepang atau beberapa rumah orang Jepang, kadang suka menemukan 盛り塩morishio, garam yang menggunung yang ditaruh di lantai depan pintu rumah. Itu berfungsi sebagai penolak bala.

Tulisan asli oleh: Imelda Coutrier