Hari Taksi

Tahukah teman-teman bahwa tanggal 5 Agustus adalah Hari Taksi di Jepang?

Apakah teman-teman sering naik taksi?

Kadang jika hujan atau bawaan banyak, waktu anak-anak masih kecil, saya sering naik taksi. Karena rumah saya waktu itu cukup jauh dari stasiun dan masih harus naik bus ke stasiun, saya dulu sering osewani natta. Sekarang sih, sudah jarang sekali karena rumah saya 5 menit dari stasiun. Kalau masih naik taksi, pasti saya dimarahi supirnya hehehe.

Banyak orang asing yang terkejut kalau naik taksi untuk pertama kali di Jepang, ya. Bayangkan tiba-tiba pintunya membuka dan menutup sendiri. Pasti kaget. Tapi kalau di masa pandemik, tertolong juga karena tidak harus memegang tuas pintu yang mungkin sudah dipegang macam-macam orang.

Dan kekagetan kedua mungkin timbul waktu harus membayar ongkosnya karena mahal, hehehe. Saya ingat sekali beberapa tahun lalu, saya pernah dibayari taxi dari universitas ke rumah seharga 16.000 yen! Itu karena baju saya basah kuyup dan murid saya kasihan kalau saya harus pulang naik kereta dalam keadaan basah begitu. Untung dia bawa uang tunai, meskipun akhirnya saya berhutang budi padanya. Kalau dipikir untung sekali taksi di Tokyo sekarang sudah bisa dibayar pakai e-money atau credit card ya. Ah… untung semua.

Ada satu lagi pengalaman waktu saya naik taksi di daerah Yokohama. Di belakang tempat duduk pengemudi sebelah kiri, disediakan tombol jika kita mau taxinya “pelan-pelan”. Misalnya kita tidak enak badan kita bisa menekan tombol itu sehingga sang supir bisa memperlambat laju kendaraan. Belum lagi dia menyediakan minuman mineral water dan tissue yang bisa dibeli. Sepertinya memang taksi yang saya tumpangi ini sering melayani kakek-nenek ke rumah sakit.

Ada banyak kisah yang saya dengar dari supir taksi tapi tidak akan cukup diceritakan di sini. Yang terpenting yang harus saya tulis adalah mengapa tanggal 5 Agustus itu ditetapkan menjadi hari Taksi?

Rupanya alasannya karena pada tanggal 5 Agustus tahun 1912 pertama kali taksi beroperasi di Jepang, yaitu dengan berdirinya perusahaan taksi di daerah Yurakucho. Saat itu hanya ada 6 mobil dan pertama kali menggunakan argometer untuk penghitungan ongkosnya. Saat itu ongkos untuk 1 mil (1,6 km) seharga 60 sen, dan bertambah 10 sen untuk setiap 0,5 mil berikutnya. Tentu ada juga tarif tambahan untuk menunggu, tarif waktu larut malam, waktu hujan atau jalanan berlumpur. Hari Taksi ini baru ditentukan sebagai peringatan pada tahun 1985.

Ada ceritamu tentang taksi? Atau mungkin cinta bersemi di dalam taksi? *loh*

Tulisan asli oleh: Imelda Coutrier

OBON

OBON itu apa sih? Kalau lihat tulisan kanjinya お盆 bisa terlihat ada kanji piring 皿. Obon itu adalah nampan tempat meletakkan sesuatu. Nah kenapa masa tanggal 13-16 Agustus ini disebut OBON? Rupanya merujuk pada sesaji yang diletakkan di piring dan ditaruh di depan altar Buddha. Masa khusus untuk keluarga memanggil arwah keluarga untuk pulang ke rumah (迎え火 mukaebi) , melewati waktu bercengkerama dengan anggota keluarga yang berkumpul dan pada akhirnya pada tanggal 16 mengantar sang arwah untuk pulang (送り火 okuribi).

Dalam menyambut obon ini, bagi yang “berduit” akan memanggil pendeta Buddha untuk datang ke rumah dan berdoa di depan 仏壇 Butsudan (altar buddha tempat bersemayam “jiwa” nenek moyang). Sang Pendeta berpakaian pendeta putih dengan kimono luar berwarna hitam dari bahan jala, dan dilengkapi dengan topi “caping” untuk melindungi kepala. (Saya pernah bertanya kira-kira berapa membayar pendeta datang waktu obon, dan dijawab sekitar 100.000 yen. Hmmm pantas hanya orang kaya yang tinggal di rumah besar saja yang “berani” memanggil pendeta untuk datang).

Dalam masa OBON ini, Butsudan atau altar Buddha di rumah akan dihias dengan lampion khusus, makanan persembahan seperti buah-buahan dan kue manis, selain dupa dan batang incense お香 oko, serta bunga houzuki ほうずき yang aneh karena seperti bunga kertas melembung. Saya baru tahu bahwa namanya di Indonesia adalah ceplukan.

Adapula daerah yang menghanyutkan sesajen ini ke sungai atau laut. Sesajen akan ditaruh dalam sebuah perahu kecil dan dihanyutkan bersamaan dengan lilin. Konon ini mendoakan mereka yang kehilangan nyawanya ditelan air dan ombak.

Tetapi ini adalah tradisi yang lambat laun menghilang. Bagi warga jepang modern sekarang OBON disambut gembira karena bisa meliburkan diri dari kesibukan pekerjaan dan terik matahari. Memang pertengahan Agustus itu merupakan puncak panas-panasnya udara di Jepang. Bagi yang tidak mempunyai 仏壇 Butsudan (karena bukan anak pertama) maka cukup melakukan ziarah, nyekar ke makam keluarga, yang biasanya terletak di halaman kuil. Dan merupakan pengetahuan umum pula, bahwa makam dan kuil Buddha itu biasanya terletak di tempat yang tinggi, berbukit, dan biasanya masih banyak “hijau” pepohonan.

Bagi keluarga yang mempunyai anggota keluarga yang baru meninggal, dan sudah lewat hari ke 49 (四十九日)nya, memperingati Obon pertama yang disebut 初盆 hatsubon atau 新盆 shinbon/niibon. Di daerah-daerah, keluarga akan menerima kedatangan selain saudara juga teman-teman dekat dari yang baru meninggal, yang membawa sesuatu untuk dipersembahkan.

Pada waktu OBON ini juga biasanya diadakan tari bersama yang disebut BON Odori 盆踊り. Dengan membuat lingkaran biasanya dinyanyikan bersama “Tsukiga deta deta, tsuki ga deta ya yoi yoi……” Gerakannya mudah dan saya pernah diajari : hotte hotte mata hotte (hotte= menggali, dengan gerakan menggali kanan-kiri) katsuide katsuide sagatte (katsuide = memikul memikul mundur ), lalu tepuk tangan seperti membersihkan tangan dari pasir. Tentu gerakan BON Odori berbeda di tiap daerah, tapi yang saya pelajari disebut dengan tankobushi 炭坑節 (tari penambangan batu bara) dari daerah Shizuoka. Setiap saya menarikan Bon Odori saya pasti ingat tari Sajojo deh, tarian massal di Indonesia. Tapi sepertinya gerakannya susah ya? Soalnya saya tidak bisa 😃 mending Bon Odori deh.

Oh ya ada satu lagi yang belum saya terangkan di sini, yaitu keberadaan Terong dan Kyuri yang diberi kaki 4, yang kadang kala tidak hanya ditaruh di depan altar, tapi juga di depan rumah. Ini adalah 精霊馬 shoryouma atau kendaraan yang dipakai oleh arwah untuk datang dan pulang. Datang dengan kyuri きゅうり (melambangkan kuda) dan pulang naik terong ナス (melambangkan sapi). Maksudnya datang naik kuda supaya cepat sampai, dan pulangnya pelan-pelan saja naik sapi 😃 Yang lucu ada beberapa orang Jepang yang humoris, membuat ketimunnya bukan berbentuk kuda, tapi kapal terbang. Konon kakeknya yang meninggal adalah pilot pesawat. Atau ada juga yang berbentuk sepeda motor Harley.

Bagaimana OBON teman-teman? Saya sendiri biasanya tidak merayakan Obon dengan keluarga suami. Selain mereka tidak terlalu taat dengan aturan agama Buddha dengan mengadakan upacara di rumah (pelit juga sih ngga mau bayar pendeta Buddha 😃) , pertengahan Agustus si menantu yang orang Indonesia ini biasanya sedang pulang kampung sih 😃 Masak saya panggil arwah sendirian di Jakarta, dengan jangka hihihi (ayoooo siapa yang pernah main jelangkung? Saya takut jadi tidak pernah hihihi).

Umi no Hi

Tanggal 15 Juli 2024 adalah tanggal merah! Ya, tanggal 15 Juli itu adalah hari LAUT di Jepang. Tanggalnya berbeda-beda setiap tahunnya, karena sejak ada sistem Happy Monday (2003), pemerintah kemudian menetapkan Hari Laut jatuh pada hari Senin minggu ke 3.

Saya mengikuti perkembangan hari Laut, sejak pertama kali ditetapkan yaitu tanggal 20 Juli (dulu selalu 20 Juli) tahun 1996 (ditetapkannya tahun 1995, dan berlaku mulai tahun berikutnya). Ada banyak memori tentang hari Laut, karena waktu itu saya kuliah di Yokohama. Bagi saya Hari Laut memang pantas dirayakan di Yokohama. Dan yang pasti Hari Laut yang tanggal 20 Juli itu berarti semester ganjil di universitas selesai (pada umumnya), dan mulai liburan musim panas. Tapi karena dipindah menjadi hari Senin, berarti harus tunggu sampai Jumatnya, deh.

Kenapa tanggal 20 Juli itu Hari Laut?

Sebetulnya latar belakang sejarahnya dari kapal Meiji Maru (明治丸) yang mendarat di Yokohama tanggal 20 Juli 1876. Kapal ini membawa Kaisar Meiji setelah melakukan kunjungan ke utara Jepang. Kapal Meiji Maru sendiri dipesan langsung dari Inggris untuk dipakai khusus membawa Kaisar melawat mercu suar di Jepang. Setelah itu kapal Meiji Maru menjadi kapal pelatih yang ditambatkan di Universitas Tokyo Marine di kampus Echujima.

Nah yang menjadi pertanyaan sekarang, kenapa kapal-kapal Jepang semua bernama xx Maru. Pasti di bagian belakang namanya ada Maru 丸nya。Padahal sejak kapan kapal itu ada yang bulat ya?

Rupanya Maru itu dulu awalnya dari MARO 麿, sebuah nama kesayangan yang sering dipakai untuk nama laki-laki, jaman Nara. Sekarang sih biasanya nama laki-laki (yang sudah tua) Taro atau Jiro. Kemudian nama Maro ini juga dipakai untuk anjing, atau bahkan untuk pedang kesayangan. Lama-lama pengucapan berubah menjadi Maru dan Kanjinya berubah menjadi lebih mudah 丸。Akhirnya pada Jaman Meiji, peraturan perkapalan mewajibkan penggunaan Maru pada penamaan kapal-kapal.

Kalau mau melihat dalamnya kapal Jepang silakan berkunjung ke Yamashita Koen di Yokohama. Di situ tertambat Hikawa Maru sebuah kapal pos, dan bisa masuk dengan membayar 300 yen. Selain itu di dekat Landmark Tower ada pula kapal layar Nippon Maru yang melengkapi Museum Bahari yang berada di dekatnya. Untuk memasuki Kapal Nippon Maru bisa membeli karcis masuk seharga 600 yen (kapal dan museum) atau 400 yen (kapal atau museum saja). Bisa lihat keterangannya di http://www.nippon-maru.or.jp/foreign/

Saya ingat kapal Nippon Maru ini pernah berlabuh di Jakarta saat saya masih kuliah bahasa Jepang, dan kami diundang menaiki kapal ini untuk bertemu pelajar dari Asean yang sedang berlatih di kapal tersebut.

Kalau sempat pergi ke Nippon Maru di Yokohama ini, sebelum masuk tanyakan apakah ada Sohan Tenpan 総帆展帆(そうはんてんぱん)atau pembukaan layar. Ada waktu-waktu tertentu mereka mengadakan pertunjukan cara membuka seluruh layar kapal, yang makan waktu 1 jam. Untuk anak-anak biasanya dipinjamkan seragam kapten kapal, sehingga bisa berfoto dan bergaya dengan baju pelaut itu. Pada Hari Laut biasanya pasti ada banyak acara di Nippon Maru.

Yang pasti kalau berswafoto di kapal-kapal ini harap berhati-hati jangan sampai me-MARU-kan ya 😀

Tulisan asli oleh: Imelda Coutrier

Hari Soft Cream

Tanggal 3 Juli rupanya adalah hari Soft cream, karena pada tanggal 3 Juli tahun 1951 di Taman Meiji Jinggu diadakan karnaval oleh tentara Sekutu. Nah pada saat itulah dijual soft cream pertama kali di Jepang.

Menurut sejarahnya es krim pertama kali dibuat 4000 tahun yang lalu di China, dengan menaruh susu dalam salju. Susu yang membeku itu rasanya lebih seperti sherbet daripada es krim. Dan saat itu susu merupakan minuman yang masih jarang sehingga sherbet susu itu merupakan simbol kekayaan.

Pernah penasaran tidak? Apa bedanya soft cream dan ice cream? Ice cream itu suhunya di bawah -18 derajat C sedangkan soft cream antara -7 sampai -5 derajat. Karena itu soft cream lebih lembut rasanya, kan? Konon perbedaan suhu itu juga mempengaruhi.

Kenapa suhunya beda? Jadi kalau ice cream itu dibuat dipabrik dan untuk sampai ke pelanggan, hari melalui perjalanan panjang. Karena itu perlu suhu yang lebih rendah. Sedangkan soft cream dibuat langsung di depan pelanggan, jadi tidak perlu suhu begitu rendah.

Ternyata tidak selalu hari-hari panas itu menyebabkan soft cream banyak terjual, loh. Konon kalau suhu hari itu terlalu panas, malahan yang laku adalah soft cream rasa ramune, karena rasanya lebih segar.

Waktu kecil dulu, saya selalu ingat dibelikan soft cream di apotik Melawai, Kebayoran Baru. Rasanya bisa pilih vanila, coklat atau mix. Saya selalu pilih yang mix. Dan menurut saya rasa soft cream di situ yang paling enak . Sayangnya cuma bertahan beberapa tahun saja, mungkin sewa mesinnya mahal, ya?

Sekarang sih, saya sering ingin coba soft cream rasa yang aneh-aneh. Misalnya rasa natto, rasa gyutan (lidah sapi), rasa lavender, atau rasa kecap asin (shoyu). Cuma ingin tahu saja sih

Kamu punya kenangan dengan soft cream? Atau rasa apa yang paling disukai?

(Huhuhu jadi ingin soft cream deh… Imelda sih )

Ssst ternyata setelah saya periksa lagi Soft cream itu adalah JAPLISH. Seharusnya bahasa Inggrisnya Soft serve ice cream, kemudian disingkat jadi soft cream.

Tulisan asli oleh: Imelda Coutrier

Hanamatsuri

Festival Bunga 花まつり

Hari ini tadinya saya rencana ke KBRI, tapi kemudian kemarin diingatkan teman, “Eh itu kan hari Waisak. KBRI libur loh”. Untung saja ngobrol, kalau tidak bisa kecele deh. Gakkari がっかり。Waisak adalah hari besar agama Buddha, yang sering kita ketahui sebagai hari lahirnya Buddha, atau Sidharta Gautama. (Dalam ajaran agama Buddha sebetulnya ada 3 hal penting yang dirayakan pada waktu Waisak yaitu kelahiran Buddha, pencapaian penerangan agung sehingga disebut sebagai Buddha dan wafatnya Buddha).

Buddha dalam bahasa Jepang disebut oshakasama お釈迦様 おしゃかしゃま。Agamanya sendiri disebut Bukkyou仏教 ぶっきょう。Waisak itu berasal dari kata Vesak dari bahasa Sanksekerta. Kalau di Indonesia, biasanya Waisak dirayakan dengan melepaskan lampion sementara umat Buddha akan pergi ke kuil, bertapa untuk merenungkan ajaran Sang Buddha dan berbagi makanan. Kita semua tahu bahwa banyak umat Buddha dari dalam negeri maupun luar negeri biasanya berkumpul di Candi Borobudur. Karena pandemi, acara berkumpul tahun ini ditiadakan.

Nah, yang menjadi pertanyaan, apakah Jepang yang juga menganut agama Buddha tidak merayakan Waisak? Ternyata umat Buddha di Jepang juga merayakan kelahiran Buddha ini dengan nama Hana matsuri 花まつり. Dan tanggalnya sudah pasti yaitu tanggal 8 April, tidak seperti di Indonesia yang berubah-ubah setiap tahun. Bagaimana umat Buddha di Jepang merayakan Hana matsuri?

Tentu di Jepang tidak libur. Perayaan dipusatkan di kuil-kuil terutama di Kyoto dan Nara. Perayaan Hanamatsuri ini konon pertama kali dirayakan di Asuka dera 飛鳥寺di Nara tahun 606. Rupanya mereka membuat seperti kolam kecil dengan patung Buddha kecil di tengahnya, dan dihias dengan bunga-bunga. Umat yang datang menyiramkan air amacha 甘茶 sejenis teh yang terbuat dari ajisai (hydrangea) dari kolam kecil itu ke atas patung Buddha, seakan-akan memandikan bayi. Nah saya pernah melihat seperti kolam kecil ini di depan sebuat supermarket dekat rumah dulu. Saya heran tadinya, lalu membaca keterangan di sampingnya. Rupanya ini Hanamatsuri (dan memang hari itu tanggal 8 April). Timely sekali ya. Daaan, tentu saja, kebiasaan orang Jepang, sering sekali menaruh (melemparkan uang koin) ke air yang tergenang 😃.

Dalam agama Buddha, ada satu kata yang masih sulit saya mengerti, yaitu hotokesama 仏様 ほとけさま。Dalam pengertian saya Hotokesama itu = Buddha. Tapi coba pergi ke pemakaman. Semua orang akan menyebut orang yang sudah meninggal itu dengan hotokesama. Jadi hotokesama juga = arwah leluhur.

Ada baiknya juga teman-teman mengingat tiga hal ini :

1. Buddha disebut dengan oshakasama

2. Hanamatsuri itu bukan seperti festival bunga sakura, tapi peringatan kelahiran Buddha dan

3. Arwah orang meninggal disebut dengan hotokesama.

Mempelajari agama memang sulit, tetapi ada baiknya kita mengetahui agama orang lain, karena agama pun bagian dari budaya.

Selamat Waisak bagi penganut Buddha di WIBJ.

Hari Gunung 山の日

Hari ini tanggal 11 Agustus berwarna merah dan merupakan hari libur resmi di Jepang. Dan hari Gunung ini sebetulnya baru dirayakan sejak 2016 yang lalu.

Memang sepertinya Jepang sedang berusaha memperbanyak hari libur untuk mengerem atau memperpendek hari kerja orang Jepang (meskipun dipantek hari libur setengah tahun pun orang Jepang akan tetap bekerja di hari libur 😃 ), dengan memutuskan Happy Monday (menggeser hari libur ke hari Senin sehingga bisa libur berturut-turut dan menambah hari libur meskipun penetapan Yama no hi 山の日 ini dilakukan setelah 20 tahun berlalu sejak penetapan Hari Laut.

Selain daripada tujuan penetapan yang “membuat warga lebih menyadari keberadaan gunung dan menghargainya”, sebetulnya tidak ada latar belakang sejarah yang mendukung, seperti saudaranya si Hari Laut. Dengan tidak ada latar sejarahnya ini memang yang membuktikan bahwa pemerintah “mencari-cari” kesempatan untuk meliburkan warganya di bulan Agustus.

Dalam penggodokan penentuan tanggal untuk diperingati sebagai Yama no hi, awalnya ditentukan tanggal 12 Agustus. Tapi pada tanggal itu pada tahun 1985, telah terjadi kecelakaan jatuhnya pesawat 墜落事故 JAL dengan nomor penerbangan 123 di daerah Osutakano one (Prefektur Gunma) yang menelan korban 520 orang. Kecelakaan ini merupakan kecelakaan terparah dalam bidang penerbangan. Jadi, rasanya tidak etis untuk merayakan Hari Gunung pada tanggal 12. Sedangkan jika diundur ke tanggal 13, juga tidak bisa karena biasanya pada tanggal 13-14-15 Jepang merayakan Obon (meskipun bukan tanggal merah, biasanya orang Jepang pulang kampung pada hari-hari ini). Jadilah Hari Gunung dirayakan pada tanggal 11 Agustus, dan menjadi hari libur yang ke 16 dalam satu tahun di Jepang.

Jadi kesempatan juga untuk teman-teman menikmati gunung di Jepang ya? Saya sendiri belum pernah mendaki Gunung Fuji. Orang asing biasanya menyebutkan Gunung Fuji adalah Fujiyama, sedangkan orang Jepang menyebutnya dengan Fujisan. Mengapa? Sebetulnya memang kanji 山 itu bisa dibaca “yama”, dan bisa dibaca “san” (atau “zan”), jadi tidak salah kalau disebut dengan Fujiyama. Tapi orang Jepang menyebutkan Fujisan itu konon karena lebih menghormati gunung Fuji, layaknya menghormati manusia yang juga dipanggil dengan -san.

Tapi tahukah teman-teman ada berapa banyak gunung sih di Jepang? Sebetulnya Jepang itu selain bisa disebut sebagai “negara kepulauan”, juga bisa disebut dengan “negara gunung”, karena jumlahnya 16.667 gunung (menurut peta dengan skala 1:25.000)! Dan ini masih ada yang tidak tercantum namanya, sehingga mungkin lebih banyak lagi jumlahnya. Gunung yang tertinggi di Jepang tentu adalah Fujisan (3776MDPL) Sedangkan gunung yang terendah, yang tercantum dalam peta skala 1:2.00 itu setinggi 5 meter yang terletak di Osaka dan bernama Tenbouzan 天保山.

Saking banyaknya gunung di Jepang, Fukuta Kyuya, seorang novelis dan pendaki gunung memilih 100 gunung populer di Jepang 日本百名山, dan biasanya menjadi panduan atau target pendaki gunung di Jepang. Boleh berbangga, bapak mertua saya sudah menyelesaikan pendakian 100 gunung populer di Jepang pada usia 74 tahun. Sayangnya sekarang beliau harus mengurus istrinya yang sakit sehingga tidak bisa memenuhi target 200 gunung populer di Jepang.

Saya sendiri sebetulnya takut ketinggian, sehingga takut mendaki. Tapi paling sedikit ada 2 gunung yang saya ingat pernah saya daki yaitu Nokogiriyama 鋸山 (330MDPL) di Chiba dan Hachijoji-shiroyama八王子城山 (446MDPL) di Tokyo. Untuk berikutnya mau coba Takaosan 高尾山 (599MDPL)…. entah kapan.

Jadi, di hari Gunung nanti teman-teman akan mencoba mendaki gunung apa? Tenbouzan yang 5 meter saja itu? 😃

Saya sih inginnya Daikanyama, atau Aoyama atau Yamanote saja deh hehehe 😃. Yuuuuuk bareng 😃

#wibjnihongo#wibjbudayajepang

Denden Mushi

Teman-teman pernah dengar lagu anak-anak bahasa Jepang seperti ini?

Den den mushi mushi katatsumuri (wahai bekicot)

Omae no atama wa doko ni aru (kepalamu ada dimana?)

Tsuno dase yari dase atama dase (keluarkan tandukmu, senjatamu, kepalamu)

Jadi bekicot (siput) itu dalam bahasa Jepang namanya katatsumuri カタツムリ. Ini umum, tapi sebetulnya bisa disebut juga dengan den den mushi. Satu lagi yang terkenal untuk anak-anak balita adalah AOMUSHI (青虫 ulat hijau)dengan buku bergambarnya HARAPEKO AOMUSHI Ulat hijau yang lapar sekali 😃

Mushi 虫 itu sendiri berarti serangga/insekta. Jadi kalau ada segala jenis serangga yang tidak diketahui namanya, cukup katakan MUSHI. Untuk serangga kecil hitam yang suka terbang di atas pisang busuk? Mushi juga. Yang hitam-hitam ada di beras, juga mushi. Ada mushi yang saya benci yaitu Kabutomushi カブトムシalias kumbang tanduk. Anak laki-laki Jepang suka sekali mengumpulkan kabutomushi dan kuwagata temannya waktu musim panas. Duh, saya tidak bisa tidur waktu kabutomushi anak saya keluar dari kandangnya 😃

Mushi 虫memang banyak keluar di musim panas. Padahal musim panas di Jepang itu kan MUSHI-atsui 蒸し暑い むしあつい ya. Buat kita manusia, keadaan mushi atsui – panas lembab itu amat menyebalkan. Tapi si Mushi mungkin justru suka yang mushiatsui 😃

Maaf ya teman-teman Imelda bicarakan serangga, mungkin banyak yang masih sedang memasak, misalnya kukus ketupat! 蒸すmusu = kukus. Kalau saya sih paling banter beli ChawanMUSHI 茶碗蒸しdan MUSHI pan 蒸しパン = roti kukus (duh aku ngebayangin bolu kukus!). Ada cukup banyak kue tradisional Jepang yang dikukus juga loh. Yang pasti jangan sampai jadi MUSHIBA 虫歯 gigi berlubang karena kebanyakan makan kue besok ya…… (Saya selalu ajarkan murid bahasa Indonesia waktu menghafalkan kata musibah dengan: gigi berlubang mushiba itu musibah karena tidak bisa makan 😃 )

Hari ini tanggal 4 Juni, 6-4 dibaca MU-SHI, jadi ada beberapa peringatan yang ‘nyamber’ kata-kata mushi. Ada Hari Kabutomushi, ada juga hari Mushipan, atau mushi ryori (masakan yang dikukus). Juga Hari pencegahan gigi berlubang 虫歯予防の日. Dua hari terakhir saya merasa MUSHI-atsui むしあつい jadi sekalian saja disamber juga 😃

Semoga tulisan pendek saya hari ini tidak di MUSHI 無視 (dicuekin) teman-teman yaaaaa.

Ochazuke

Teman-teman tahu ochazuke おちゃづけ? Itu tuh nasi yang dikasih teh (hijau) lalu ditaburkan nori di atasnya. Kadang diberi suwiran salmon, atau mentaiko (telur ikan Tara) atau ikura (telur ikan Salmon). Sebetulnya apa saja bisa ditaruh di atasnya, dan tidak harus selalu diguyur dengan teh 😃 Bisa saja dengan kaldu lainnya.

Malam-malam anak saya sering turun ke bawah dan berkata, “Ma, aku boleh makan Ochazuke?” Ternyata dia kelaparan. Maka biasanya dia sering mengambil bubuk ochazuke rasa ume yang dia suka lalu ambil nasi dan masukkan air panas ke mangkuk nasinya.

Bubuk ochazuke yang terkenal adalah buatan Nagatanien, yang sudah memproduksi bubuk ochazuke sejak tahun 1952. Tanggal 17 Mei ditentukan sebagai Hari Ochazuke karena tanggal ini merupakan hari meninggalnya pencetus ide ochazuke, yang juga merupakan kakek dari pemilik perusahaan Nagatanien.

Ide mencampurkan nasi dengan teh ini mungkin hanya ada di Jepang. Boleh dikatakan ochazuke adalah makanan sederhana, makanan rumahan yang disediakan kalau tidak ada lauk lain. Atau biasanya hanya disediakan di restoran nomiya sebagai pengganjal perut sesudah minum alkohol. Jarang sekali kita bisa menemukan ochazuke dalam daftar menu di restoran. Tetapi saya pernah lihat memang ada toko yang khusus menjual ochazuke, yang mahal 😃 Soalnya toppingnya bisa bermacam-macam dan mahal-mahal.

Pikir-pikir konsep nasi diberi air panas ini memang praktis dan jenius, ya? Kalau orang Indonesia biasanya untuk mengganjal perut lapar paling makan nasi dengan kerupuk/emping, pakai kecap. Tidak ada yang terpikir untuk memberi “kuah” dengan teh panas atau air panas, ya. Dan saya boleh bangga, ah, pada ibu saya, karena saya tahu dia sering makan nasi pakai air panas lalu diberi kaldu “maggie” plus sambal. Ochazuke ala keluarga Coutrier 😃. Waktu kecil saya melihat dia makan begitu dan sering minta disuapin juga. Ah, jadi kangen alm. mama.

Bagaimana apakah teman-teman suka makan ochazuke? Atau biasanya makan apa untuk mengganjal perut kelaparan 😃 tengah malam?

Kodomo no hi

HARI ANAK こどもの日

Tanggal 5 Mei adalah hari khusus untuk anak laki-laki, yang berasal dari perhitungan kalender China Kuno yang disebut dengan sekku 節句. Hari libur ini merupakan serangkaian hari libur di akhir April dan awal Mei yang disebut Golden Week (Minggu Emas) di Jepang. Berdasarkan hukum, Hari Anak-anak diperingati sejak tahun 1948 dan ditetapkan dengan undang-undang hari libur Jepang (Shukujitsu-hō祝日法) untuk “menghormati kepribadian anak, merencanakan kebahagiaan anak sambil berterima kasih kepada ibu.”

Kira-kira sebulan sebelum hari ini, di tiap rumah yang mempunyai anak laki-laki akan menghias rumahnya dengan bendera berbentuk ikan koi, yang disebut Koi Nobori鯉のぼり. Semakin kaya keluarga itu, semakin besar dan bagus bendera yang dipasang. Karena kami tinggal di mansion (apartemen) jadi tidak memasang bendera seperti itu (sekalipun saya tahu ada 2-3 keluarga yang memasang di teras rumahnya). Dan biasanya kakek-nenek lebih antusias merayakan upacara anak laki-laki ini dibanding dengan keluarga muda sekarang.

Koinobori ini adalah perlambang atau simbol hari anak laki-laki. Pernahkah teman-teman bertanya-tanya mengapa bendera ikan Koi yang dipakai sebagai lambang hari anak-anak ini? Mengapa bukan layang-layang berbentuk naga atau mungkin samurai? Mengapa ikan KOI? mengapa bukan ikan-ikan yang lain, misalnya hiu atau salmon? 😃

Setelah saya cari ternyata Koi merupakan ikan yang tangguh dan bisa hidup di mana-mana, kolam maupun genangan air berlumpur. Dahulu ada air terjun di China yang arusnya bergitu kencang. Konon jika ada ikan yang berhasil melawan arus dan sampai di puncaknya akan berubah menjadi naga. Dan satu-satunya ikan yang berhasil melawan arus dan sampai ke puncaknya hanya seekor Koi. Dia kemudian berubah menjadi naga.

Jadi Koi dipilih sebagai simbol hari anak-anak juga dimaksudkan supaya anak-anak laki-laki dapat TETAP TANGGUH melawan kehidupan yang keras dan maju terus. Tapi kalau lihat dari sejarahnya, sebetulnya koinobori baru dipakai pada jaman Tokugawa di kalangan rakyat biasa. Dulunya peringatan hari anak-anak untuk kalangan samurai dipakai bendera dengan lambang keluarga atau umbul-umbul. Nah, kalangan rakyat biasa yang tidak mempunyai lambang keluarga kemudian memakai simbol Koi sebagai bendera sebagai “saingannya” kaum samurai. Awalnya bendera Koi ini terbuat dari kertas Jepang, dan baru pada tahun 1955 memakai bendera dari kain sintetis.

Nah, lalu ada pertanyaan lagi dari seorang teman: “ikan koi tahan ya Mbak di musim dingin..?apa kolamnya pakai’ heater?”..

Tentu saja ikan Koi tahan dingin, karena asal mereka memang dari negara 4 musim dan di alam tidak ada heater bukan? Ikan Koi yang terkenal di Jepang dari jenis Nishikigoi錦鯉, berasal dari daerah Niigata. Daerah yang terkenal sebagai “Negara Salju” Yukiguni. Tidak mungkin ikan Koi ini satu per satu dipindahkan ke kolam berheater kan? 😃 Lagi pula meskipun permukaan kolam membeku, air di dalam kolam tidak akan membeku, atau tidak semua tempat airnya membeku (seperti yang dialiri air terjun pasti tidak membeku). Karena tahan dingin ini juga mungkin ikan Koi terkenal dengan kekuatannya. Jadilah dia koinobori, simbol bagi pertumbuhan dan perkembangan anak laki-laki menjadi manusia yang tangguh dan kuat.

Jaman dahulu, untuk merayakan hari anak laki-laki ini, keluarga akan membelikan replika baju samurai yoroi 鎧, topi/helm samurai kabuto 兜, dan sebagai tambahan patung anak laki-laki kuat dalam dongeng Kintaro. Semakin besar, semakin lengkap menunjukkan kekayaan keluarga itu. Dan memang harga satu set perlengkapan ini tidak main-main loh. Satu kabuto helm samurai saja, saya lihat berlabelkan harga 250.000 yen di sebuah departemen store terkenal. Baru kabuto, belum yoroi (yang biasanya jarang dipunyai). Tapi sekarang karena keluarga muda banyak yang tinggal di apartemen, tidak ada tempat untuk meletakkan perhiasan seperti itu, sehingga semakin kecil semakin bagus (meskipun harganya belum tentu semakin murah hehehe).

Nah untuk makanan, pada hari Anak ini biasanya disediakan Kashiwa mochi 柏餅. Mochinya sebetulnya biasa saja, ada yang putih, merah muda, hijau (yomogi) dengan isi pasta kacang merah. Tapi istimewanya mochi yang dibungkus dengan daun Kashiwa, yang bentuknya khas, dan daunnya biasanya tidak dimakan.

Mengapa harus dibungkus dengan daun Kashiwa (Daimyo Oak)? Sebetulnya ini juga perlambang, karena daun Kashiwa itu terkenal tidak rontok di musim gugur. Biasanya pohon merontokkan daun di musim gugur, kemudian di musim semi daun baru tumbuh. Tapi khusus Kashiwa daun tua akan terus menempel pada batang pohon sampai daun baru tumbuh. Ada waktu daun lama dan baru tumbuh bersama, dan itu diharapkan terjadi juga pada laki-laki. Supaya tidak mati sebelum anaknya cukup besar. Atau sebagai pengertian lain, BISA MENYIAPKAN GENERASI PENERUS DULU SEBELUM LENGSER. Karena itu di halaman rumah Bushi (kaum samurai) 武士 pasti ditanam pohon Kashiwa ini. Jadi kashiwa mochi juga perlambang harapan kepada anak laki-laki agar tetap kuat dan umur panjang.

Terakhir, pada hari anak ini, biasanya setiap keluarga akan menyediakan Shobu yu 菖蒲湯, dengan menaruh batang shobu pada air panas di bak ofuro, katanya supaya anak lelaki menjadi kuat. Karena malas menyediakan di rumah, biasanya saya suruh anak-anak saya pergi dengan papanya ke sento 銭湯 pemandian umum dekat rumah, karena disediakan shobu yu di sana. Untuk anak laki-laki biasanya ada potongan harga khusus di hari anak-anak.

Hari Hijau atau Hari Showa

Horreeee sudah liburan Golden Week yang sering disingkat menjadi GW! Pasti banyak anggota WIBJ yang sedang berlibur, baik di dalam/luar negeri maupun di rumah saja.

Kita mulai GW dengan tanggal 29 April yaitu Hari Showa 昭和の日, kemudian tanggal 3 Mei adalah Hari Peringatan UUD憲法記念日, tanggal 4 Mei adalah hari Hijauみどりの日 dan 5 Mei Hari Anak こどもの日。

Saya sendiri masih sering salah menamakan libur tanggal 29 April dengan Hari Hijau. Karena sebetulnya tanggal 29 April ini disebut menjadi Hari Showa itu baru tahun 2007. Sebelum tahun 2007 namanya MIDORI no Hi atau Hari Hijau. Nah… bingung kan 😃 Membingungkan karena nama Midori no hi itu kemudian dipakai lagi sebagai pengganti nama “Hari Libur Warga 国民の休日” pada tanggal 4 Mei.

Nah, kenapa dari Hari Hijau berubah menjadi Hari Showa? Dan sebetulnya hari ini memperingati apa/siapa? Awalnya tanggal 29 April adalah hari ulang tahun Kaisar Hirohito sehingga sampai dengan Kaisar Hirohito meninggal tanggal 7 Januari 1989 disebut sebagai Hari Ulang Tahun Kaisar 天皇の誕生日. Setelah Kaisar meninggal dinamakan sebagai Hari Hijau, karena kaisar Hirohito suka pada ilmu Alam, dan meneliti tentang Marine Biology dan menemukan beberapa spesies Hydrozoa. Kita bisa mengunjungi Museum Memorial Kaisar Showa ini di taman Showa Kinen Koen di Tachikawa.

Saya yakin banyak teman yang mengenal nama Showa, yang diidentikkan dengan retro, nuansa masa lalu, yang memang merupakan jamannya kaisar Showa. Jaman ini memang penuh kenangan, baik perang maupun damai. Pertama kali masuknya televisi hitam putih, mesin cuci dan kulkas ke Jepang, pendirian Tokyo Tower dan Olimpiade Tokyo 1964. Tapi ada satu yang saya ingin kenalkan kepada teman-teman, barang “peninggalan Showa terakhir” yang dimiliki oleh anak saya.

Dia memang senang yang aneh-aneh, dan kebetulan 2 minggu yang lalu dia minta dibelikan pemoles logam. Rupanya dia mau membuat uang 10 yen koleksinya mengkilap. Jadi saya belikan cairan pemoles itu, hanya berpikir dia iseng saja. Baru kemudian setelah dia membawa koleksi koinnya ke sekolah dan memperlihatkan pada gurunya, dan menceritakan setelah pulang sekolah : “Mama, sensei juga belum pernah lihat!” baru saya ngeh…sadar. Rupanya dia bangga mempunyai uang 10 yen, 5 yen dan 1 yen keluaran tahun Showa 64 (1989) karena sebetulnya tahun Showa 64 ini hanya berlangsung 1 minggu! (Kaisar Showa mangkat tanggal 7 Januari). Ternyata 10 yennya anak saya bisa menjadi bahan tulisan hari ini untuk WIB-J. Dan mungkin teman-teman bisa perhatikan apakah dari uang 10 yen yang dipunya ada yang bertahunkan 昭和六十四年.

Sekalian lihat mungkin ada yang punya 10 yen tapi lingkaran luarnya berulir (disebut gizagiza 10 en). Karena harga koin gizagiza ini berkisar 50-100 yen loh 😃

Apakah teman-teman ada yang suka koleksi koin? Almarhum ibu saya punya satu gentong bermacam koin dari luar negeri, tapi tidak bisa saya bawa ke Jepang karena berat!